Minggu, 16 Januari 2011


HOLIDAY !

undefinedAlhamdulillah. Liburan kali ini sangat mengasyikan (y). Tapi sayangnya, liburanku kali ini tidak bersama keluarga tercinta :* melainkan bersama guru guruku disekolah dan bersama teman temanku. wuhuuu ! serunya liburan kali ini. Karena aku mengikuti Study Tour ke Bali. Perjalanan kami menuju pulau Dewata 3 hari. Sangat melelahkan. Diperjalanan, tepatnya dikota Salatiga. Kaca Bus depan kami dilempar orang menggunakan batu (!) Aku dan teman temanku sangat terkejut melihat kejadian itu. Di bus, aku duduk bersama sahabatku Harsi Kristi dan dibelakangku, yaitu teman satu kamar aku dibali Puja Indah Geani dan Juwita :) Mereka semua sangat baik. Dan didepanku Pak Zainal bersama sang istri. Sesampainya kami di Bali, kami langsung di ajak oleh "Bli Gede" dia adalah Pengarah kami sewaktu di Bali. Kami ke pusat oleh-oleh Bad Cover. Kemudian kami ke Pusat Oleh-Oleh yang kedua (lupa namanya hehe) barulah kami ke Restaurant. Setelah makan malam, kami langsung ke Hotel. Nama hotel tempat kami menginap di Denpasar, yaitu "Hotel Mutiara". Kami tiba dan langsung siap siap untuk mandi dan tidurrrr zzz. Kami sangat kelelahan. Keesokan harinya, kami jalan jalan keliling kota Bali. Kami ke moseum di Bali.  Tak asyik nampaknya kalau tak ke Pantai Kuta, maka lusanya kami langsung ke Pantai Kuta. Tapi sayang, seribu sayang. Tak lama kami sampai di Kuta Beach :p Hujan pun turun sangat deras (n) Kami heboh mencari tempat berteduh. Aku, Dona, dan Harsi berteduh bersama Tukang jualan Ice Cream haha. Selanjutnya berlari kembali menuju tempat perteduhan SMPN 19. Banyak bule disana. Waw ! Mata mata anak lelaki SMPN19 semuanya tidak berhenti berkedip. haha
undefinedtak lama kemudian Bli Gede menyuruh kami untuk pulang ke hotel. Dan pagi harinya, yaitu hari terakhir kami di Bali. Kami ke Pura Tanah Lot. waw ! asyik sekali disitu (y) Kami berpoto-poto disana.
Yah ! waktu kami telah habis di bali. Dan saatnya kami untuk PULAAANGG :D
Perjalanan kami belum selesai. Kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Kota yang sangat dingin Brrr -,- Setelah menginap satu hari di Bandung, kemudian kami ke Jakarta. Yeaaaa -,,- Dufan Atlantis. Oh ya ! Sewaktu kami ke Pantai Sanur, di Bali. Suatu kejadian yah ! mungkin itu tak terlupakan bagi Aris Wiranugraha HAHAHA. Dengan gayanya yang sok sok an bisa berenang. Ternyata, dia TENGGELAM ! wkwk Kami hanya bisa tertawa, untungnya Allah SWT masih memberikan dia kesempatan untuk hidup. Salah satu orang di Pantai tersebut menolongnya.   Tanggal 11-01-2011 Kami telah sampai di Palembang sampai selamat.Terimakasih ya Biro perjalanan Epa Star Bus dan BLI GEDE. Semuanya tak terlupakan. :)

Selasa, 16 November 2010

HIKMAH IDUL ADHA

Idul Adha (bahasa arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim(Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalad Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah shalat, dilakukan penyembelihan hewan Kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dulhijah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.
Kurban dalam bahasa Arab sendiri disebut dengan qurbah yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ritual Idul Adha itu terdapat apa yang biasa disebut udlhiyah (penyembelihan hewan kurban). Pada hari itu kita menyembelih hewan tertentu, seperti domba, sapi, atau kerbau, guna memenuhi panggilan Tuhan.
Idul Adha juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan Nabi Ibrahim. Idul Adha bermakna keteladanan Ibrahim yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan.
Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.
Bagi Ali Syari’ati (1997), ritual kurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Sementara bagi Jalaluddin Rakhmat (1995), ibadah kurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial Islam, mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang kekurangan.
Dengan berkurban, kita mendekatkan diri kepada mereka yang fakir. Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda wajib berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila Anda puasa, Anda akan merasa lapar seperti mereka yang miskin. Ibadah kurban mengajak mereka yang mustadh’afiin untuk merasakan kenyang seperti Anda.
Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ritus kurban memiliki tiga makna penting sekaligus. Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Kurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi.
Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah kurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Kurban adalah media ritual, selain zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaaan sosial itu.
Ketiga, makna bahwa apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki.
Bagi Syari’ati, kisah penyembelihan Ismail, pada hakikatnya adalah refleksi dari kelemahkan iman, yang menghalangi kebajikan, yang membuat manusia menjadi egois sehingga manusia tuli terhadap panggilan Tuhan dan perintah kebenaran. Ismail adalah simbolisasi dari kelemahan manusia sebagai makhluk yang daif, gila hormat, haus pangkat, lapar kedudukan, dan nafsu berkuasa. Semua sifat daif itu harus disembelih atau dikorbankan.
Pengorbanan nyawa manusia dan harkat kemanusiaannya jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan agama mana pun. Untuk itu, Ibrahim tampil menegakkan martabat kemanusiaan sebagai dasar bagi agama tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dalam ajaran Islam. Ali Syari’ati mengatakan Tuhan Ibrahim itu bukan Tuhan yang haus darah manusia, berbeda dengan tradisi masyarakat Arab saat itu, yang siap mengorbankan manusia sebagai “sesaji” para dewa.
Ritual kurban dalam Islam dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus tradisi membunuh manusia demi “sesaji” Tuhan. Manusia, apa pun dalihnya, tidak dibenarkan dibunuh atau dikorbankan sekalipun dengan klaim kepentingan Tuhan. Lebih dari itu, pesan Iduladha (Kurban) juga ingin menegaskan dua hal penting yang terkandung dalam dimensi hidup manusia (hablun minannas).
Pertama, semangat ketauhidan, keesaan Tuhan yang tidak lagi mendiskriminasi ras, suku atau keyakinan manusia satu dengan manusia lainnya. Di dalam nilai ketauhidan itu, terkandung pesan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apa pun. Kedua, Idul Adha juga dapat diletakkan dalam konteks penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap adil, toleran, dan saling mengasihi tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan profetis agama itu sendiri.
Masalahnya, spirit kemanusiaan yang seharusnya menjadi tujuan utama Islam, dalam banyak kasus tereduksi oleh ritualisme ibadah-mahdah. Seakan-akan agama hanya media bagi individu untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, yang lepas dari kewajiban sosial-kemanusiaan. Keberagamaan yang terlalu teosentris dan sangat personal itu, pada akhirnya terbukti melahirkan berbagai problem sosial dan patologi kemanusiaan.
Alquran menganjurkan kita agar mengikuti agama Ibrahim yang hanif, lurus dan tidak menyimpang. Selain hanif, agama Ibrahim juga agama yang samaahah, yang toleran terhadap manusia lain. Pesan kurban harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat, seperti perwujudan kesejahteraan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi. Sulit membayangkan jika banyak umat yang saleh secara ritual, khusyuk dalam berdoa, dan rajin berkurban, tetapi justru paling tak peduli pada tampilnya kemungkaran.
Sekaranglah saatnya kita mewujudkan penegakan solidaritas dan keadilan sosial sebagaimana diajarkan Nabi Ibrahim, dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol penegakan nilai-nilai ketuhanan di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang kian individual, pragmatis, dan menghamba pada materi. Karena, seperti kata Rabindranath Tagore (1985), Tuhanmu ada di jalan di mana orang menumbuk batu dan menanami kebunnya, bukan di kuil yang penuh asap dupa dan gumaman doa para pengiring yang sibuk menghitung lingkaran tasbih.

Minggu, 14 November 2010

Biodata





Nama: M.Fachry.D
Kelas : 9.4
T.T.L: Jakarta, 11-september-1996
asal sd : SD Bina Bangsa
Alamat : jln kebun bunga, komp griya  anggrek blok A17
alamat facebook :  fahrii_end at yahoo.com
hobby : maen basket
Agama : Islam